Langsung ke konten utama

Kemerdekaan Lahir Dan Batin

Indonesia adalah bangsa yang merdeka, bahkan sudah yang ke tujuh puluh empat tahun kita memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Upaya yang dilakukan untuk merebut kemerdekaan bukanlah hal yang mudah, membutuhkan perjuangan serta persatuan dan kesatuan dari seluruh rakyat Indonesia. Hal tersulit yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini ialah mempertahankan kemerdekaan tersebut. Sita Acetylena menyatakan bahwa “Meskipun kita telah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat namun sebenarnya kita belum menjadi bangsa yang merdeka secara Lahir dan batin”. Tanpa disadari kita masih berada pada masa penjajahan, budaya kita dijajah, kebiasaan kita dijajah, serta gaya hidup kita dijajah oleh budaya asing, sehingga terjadi kemorosotan moral. 

Sebelum merdeka pergerakan nasional Indonesia dilakukan dengan berbagai bentuk usaha salah satunya adalah pendidikan karakter, khususnya pendidikan karakter kebangsaan ala Ki Hadjar Dewantara yang berlandaskan pada spiritualisme, merupakan senjata yang digunakan untuk melawan imperialisme. Setelah kemerdekaan, pendidikan karakter justru hilang jiwanya dalam sistem pendidikan nasional. Semua metafora yang menjadi wujud dari pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara, akhirnya menjadi perbedaan penafsiran dan pemahaman oleh para guru Taman siswa pada waktu itu, dan meluas sampai pada guru zaman sekarang.

Zaman semakin berkembang, segala kecanggihan teknologi telah ada dalam genggaman kita, semuanya menjadi mudah kita peroleh. Jika tidak diatur dengan baik maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan karakter dan jiwa kita terlebih generasi bangsa atau peserta didik. Pendidikan karakter yang diajarkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hadjar Dewantara yang seharusnya ditiru bahkan diterapkan dalam zaman sekarang ini. Pendidikan karakter yang berlandaskan pada spiritualisme bukan hanya sekedar mematuhi norma agama, melainkan berbasis atau berlandaskan kepada Tuhan Yang Maha Esa (TYME).

Pemerintahpun telah berupaya membangun pendidikan karakter melalui naskah Kebijakan Pendidikan Karakter 2010, memiliki nilai-nilai yang hampir sama dengan pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewantara, yaitu karakter bersumber dari olah hati, olah pikir, olah raga dan olah rasa. Selain itu pendidikan yang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3). Hanya dalam kenyataan, justru banyak warga negara yang tidak berakhlak mulia (sejenis korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan kekerasan), kurang mandiri (konsumtif), tidak bertanggung jawab, dan masalah lain yang justru bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Beberapa masalah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kita belum mampu membangun karakter bangsa. Praksis pendidikan yang terjadi di kelas-kelas tidak lebih dari latihan-latihan skolastik, seperti mengenal, membandingkan, melatih, dan menghapal, yakni kemampuan kognitif yang sangat sederhana, di tingkat paling rendah.

Sinawang dengan tajam menyatakan: “Kecenderungan yang muncul, pendidikan dipersempit menjadi "persekolahan" yang kemudian dipersempit lagi dengan "pengajaran". Selanjutnya "pengajaran" dipersempit kembali dengan "pengajaran di ruang kelas" dan semakin sempit menjadi penyampaian materi kurikulum yang hanya berorientasi pada pencapaian target sempit ujian nasional (UN)”. Penyempitan seperti ini hanya mengarah pada aspek kognitif dan intelektual. Sedangkan unsur fundamental yang berakar pada nilai moral  dari pendidikan itu sendiri terlupakan. Akibatnya pendidikan hanya menghasilkan manusia yang skolastik dan pandai secara intelektual namun kurang memiliki karakter utuh sebagai pribadi.

Apa yang salah dengan pendidikan sehingga setelah lebih dari tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, pendidikan nasional belum mampu berfungsi menunjang tumbuhnya bangsa yang berkarakter?

Untuk menerapkan Pendidikan karakter, membutuhkan agen pembahas atau guru yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang tulus serta bertakwa kepada Tuhan YME. Dalam era globalisasi ini, sangat sulit mendapatkan agen pembahas yang tulus mengajar dan mendidik dengan cinta dan kasih sayang, apalagi dalam pribadi guru telah memiliki paham kapitalisme yaitu bahwa apa yang terjadi dalam perubahan sosial adalah dampak dari ekonomi dan teknologi, bukan dari proses belajar. Sehingga melalui hal tersebut, guru hanyalah sekedar profesi. Jika semangat melaksanakan tugasnya bukan karena ketulusan melainkan karena materi, uang, popularitas dan kedudukan. Ki Hadjar Dewantara telah memberikan contoh dan teladan yang baik, beliau yang sebenarnya adalah keturunan bangsawan rela melepaskan gelar bangsawannya dan menjadi sama dengan masyarakat biasa, serta menjunjung tinggi persamaan derajat, hanya demi kemerdekaan lahir dan batin bagi seluruh bangsa Indonesia.

Jika kita sadar tugas menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang mulia, maka dengan ketulusan mendidik dan menjadikan peserta didik sebagai anak sendiri serta menyerahkan segalanya kepada Tuhan maka pendidikan karakter akan ada dalam diri peserta didik atau generasi bangsa. Sebelum kita melihat karakter baik ada dalam diri peserta didik pada zaman globalisasi ini. Terlebih dahulu harus dimulai dari diri para pendidik. Selain mendidik dengan cinta dan kasih sayang yang tulus, moral dari para pendidik sangat menentukan karakter anak didiknya dan terlebih penting menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa (TYME). Maka secara tidak langsung kemerdekaan lahir batin boleh tercapai serta melahirkan insan sejati.

 

Daftar Pustaka:

Acetylena,Sita. (2018). Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara;Perguruan Taman Siswa

Sebagai Gagasan Taman Pengetahuan. Malang: Madani Kelompok Intrans

Publishing

 

Helena Asri Sinawang. 2008. Guru dan Watak Bangsa, dari

http://www.keyanaku.blogspot.com. Diunduh 28 februari 2019

Komentar